Pada tahun 1908, Mayor Jendral Robet Baden Powell dari dari Inggris melancarkan suatu gagasan tentang pendidikan luar sekolah untuk anak-anak Inggris, dengan tujuan supaya mereka menjadi manusia Inggris, warga inggris dan anggota masyarakat Inggris yang baik dan sesuai dengan keadaan dan kebutuhan Kerajaan Inggris Raya ketika itu. Untuk itu beliau mengarang suatu buku, yaitu buku “Scouting For Boy”. Buku ini memuat pengalaman beliau dan latihan apa yang diperlikan untuk Pramuka. Gagasan Baden Powell itu sangat jitu, cemerlang dan menarik sehingga dilaksanakan juga di negara-negara lain. Diantaranya Nederland, (Padvinder, Padvinderij).

Oleh orang Belanda gagasan itu kemudian di bawa dan dilaksanakan juga di negara jajahannya di sini (Nederland Oost Indie), dan didirikan oleh orang Belanda di Indonesia organisasi yang bernama NIPV (Nederland Indische Padvinders Vereeniging = Persatuan Pandu Hindia Belanda).  Oleh para pemimpin di dalam pergerakan nasional gagasan baden Powell itu diambil alih, dan dibentuklah organisasi -organissi kepanduan yang bertujuan membentuk manusia indonesia yang baik yaitu menjadi kader pergerakan nasional yang baik. didirikanlah bermacam-macam organisasi kepanduan antara lain JPO (javaanse Padvinders Organizatie), JJp (Jong Java padvindery), Natipij (nationale islamitiche Padvinderij), SIAP (sarekat Islam Afdeling padvinderij), HW (Hizbul Wathon) dan sebagainya. Sumpah pemuda yang dicetuskan dalam Kongres Pemuda, pada tanggal 28 Oktober 1928, benar-benar menjiwai Gerakan Kepanduan Indonesia untuk lebih bergerak maju.

Adanya larangan Pemerintah Hindia belanda kepada organiasi kepandun di luar NIPV untuk menggunakan istilah padvinder dan padvinderij, maka KH. Agus Salim menggunakan istilah Pandu dan Kepanduan untuk menggantikan istilah asing Padvider dan Pvinerij itu. Dengan meningkatnya kesadaran Nasional Indonesia, maka timbulah niat untuk menggerakan persatuan antar organisasi-organisasi kepanduan indonesia. Ini menjadi kenyataan pada tahun 1930 dengan adanya INPO (Indonesische padvinders Organizatie), PK (Pandu Kesultanan), dan PPS (Pandu Pemuda Sumatera)berdiri menjadi satu organissi yitu KBI (kepanduan Bangsa Indonasia).kemudian terbentuklah satu federasi yang dinamakan Persatuan Antar Pandu -Pandu Indonesia (PAPI) pada tahun 1931, yang kemudian berubah menjadi Badan Pusat Persudaraan Kepanduan Indonesia (BPPKI) pada tahun 1938.

diwaktu pendudukan Jepang (Perang Dunia II), oleh para penguasa jepang di indonesia organisasi kepanduan dilarang adanya. Tokoh Pandubanyak yang masuka pada organisasi Seinendan, keibodan, dan Pembela Tanah Air (PETA). Sesudah Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 agustus 1945, diwaktu berkobarnya perang kemerdekaan dibentuklah orgaisasi kepanduan yang berbentuk kesatuan, yaitu Pandu rakyat Indonesia pada tanggal 28 Desember 1945 di Solo sebagai satu-satunya organisai di dalam Wilayah negara Kesatuan Republik  Indonesia.

setelah penakuan kedaulatan maka dialam liberal, terbukalah kesempatan pada sipapapun untuk mendirikan organisasi kepanduan. Berdirilah kembali HW, SIAP, Pandu islam Indonesia, Pandu Kristen, Pandu Katholik,KBI dll. Menjelang tahyun 1961 kepanduan Indonesia telah terpecah menjadi lebih dari 100 organisasi kepanduan, satu keadaan yang terasa sangat lemah, meskipun sebagian dari pada organisasi itu terhimpun dalam tiga federasi organisasi-organisasi kepanduan Putera dan dua federasi organisasi-organisasi kepanduan Putri yaitu Ipindo (ikatan Pandu Indonesia, tanggal 13 september 1951), Popindo (persatuan Organisasi Pndu Putri Indonesia, pada tahun 1945), dan PKPI (Peserikatn Kepanduan Putri Indonesia). Tahun 1955 Ipindo berhasil menyelenggarakan jambore nasional I di Pasar Minggu, Jakarta.

Mengenai kelemahan itu , maka ketiga federasi tersebut melebur diri menjadi satu federasi Yang diberi nama Perkindo  (persatuan Kepanduan Indonesia). akan tetepi hanya kurang lebih 60 ornganisasi kepanduan saja dari 100 lebih ornganisasi kepanduan yang  federasi Perkindo, dan jumlah anggota keseluruhan kurang lebih hanya 500.000 orang. Lagi Pula, di dalam federasi sebagian dari pada 60 ornganosasi-organisasi anggota Perkindo,terutama yanga ada di bawah Onderbouw organisasi politik atau organisasi massa, tetap berhadapan berlawanan satu sama lain, sehinggaa tetap terasa lemahnya Geakan Kepanduan Indonesia.

Oleh Perkindo dibentuklah suatu panitia untuk memikirkan suatu jalan keluar. panitia itu menyimpulakan selain lemah terpecah, gerakan kepanduan indonesia juga masih terpaku oleh ajaran-ajaran lama yang  tradisional dari kepanduan Inggris dan yang dibawa dari negara lain. hal inilah berakibat bahwa Gerakan kepanduan Indonesia belum disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan masyarakat dan bangsa dan negara Indonesia. kepanduan hanya berjalan di kota-kota besar dan di situpun hanya terdapat pada lingkungan orang-orang yang sedikit banyak sudah berpendidikan barat.