Metode takhrij untuk studi kehujahan hadis

Cara untuk menentukan kesahihan hadits adalah dengan menggunakankaidah kesahihan, dan ats dasar ptunjuk literature yang disebut tashih dan I’tibar. Petunjuk tersebut dapat dirumusakan sebagai metode takhrij.

Takhrij menurut bahasa, berarti istinbat (mengeluarkan), tadrib (memperdalam)dan taujih (menampakan). Menurut istilah muhaditsin, tkhrij diartikan dalam beberapa pengertian:

  • Sinonim dari ikhraj, yakni seorang rawi mengutarakan suatu haditsdengan menyebutkan sumber keluarnya (pemberita) hadits tersebut
  • Mengeluarkan hadits-hadits dari kitab-kitab, kemudian menyebutkan sanad-sanadnya.
  • Menukil hadits dari kitab-kitab sumber (diwan hadits) dengan menyebut mudawinya serta dijelaskan mertabat haditsnya.

Rumusan Mahmud al-Thahhah tentang ta’rif tahkrij hadits adalah

“takhrij ialah penunjukan terhadap tempat hadits dan sumber aslinya yang dijelaskan sanadnya dan martabatnya  sesuai dengan keperluan”

Dari urauan di atas dapat disimpulakan, bahwa takhrij meliputi kegiatan:

  • Priwayatan ( penerimaan, pemeliharaa, pentadwinan, dan penyampaian) hadits
  • Penukialan hadits dari kitab-kitab asal untuk dihimpun dalam suatu kitab tertentu.
  • Mengutip hadits-hadits dari ktab-kitab fan (tafsir, tauhid, fiqh, tasauf dan akhlak) dengan menerangkan sanad-sanadnya.
  • Membahas hadits-hadits sampai diketahui martabat kualitas (makbul-mardud)nya

Takhrij sebagai metode untuk menentukan kehujahan hadits itu terbagi 3 macam:

Takhrij Naql atau Akhdzu

Takhrij bentuk ini kegiatannya berupa penelusuran penukilan dan pengambilan hadits dalam berbagai kitab/diwan hadits(mashadir al-Asliyah)sehingga dapat teridentifikasi hadits-hadits tertentu yangdikehendaki lengkap dengan rawi dan sanadnya masing-masing.

Berbagai cara pentakhrijan dalam arti Naql/Ahkdzu sebagai berikut

  • Takhrij dengan mengetahui sahabat yang meriwayatkan hadits.
  • Takhrij dengan mengetahui lafazh asal matan hadits yang kurang dikenal.
  • Takhrij dengan mengetahui tema atau pokok matan hadits.
  • Takhrij dengan menggetahui matan dan sanad hadits.

Takhrij tsahhih

Cara ini adalah lanjutan dari cara yang pertama, yang menggunakan pendekatan tajhrij dan al-Naql.

Tsahih, dalam arti mengenalisis kesahihan denngan mengkaji rawi, sanad dan matan berdasarkan kaidah. Sebutan  hadits sahih adalah sahih dan hasan. Baik li dzatihi maupun li ghairihi. Hadits itu sahih, dan li dzatihi bila rawinya adil dan tam dahbit. Hadits hasan li dzatihi sama dengan hadits sahih, lebih rendah dalam hal tingkat kedhabitannya tidak smpai sempurna. Hadits mardud sebutannya hadis dha’if, yakni yakni yang faqid satu syarat atau lebih dari ketentuan hasan atau sahih.

Kegiatan tsahih dilakukan dengan menggunakan kitab ‘ulum al-Hadits yang berkaitan dengan Rijal, jarh wa al-ta’dil, Ma’an al Hadits, Gharibal-Hadits , dan lain-lain.

Takhrij I’tibar

Cara ini digunakan sebbagai lanjutan dari kedua cara diatas, I’tibar berarti mendapatkan informasi dan petunjuk dari literature, baik kitab/ diwan yang asli, kitab syarh dan kitab-kitab Fan yang yang memeuat dalil-dalil hadits. Dengan mengetahui diwan yang mengoleksi hadits, kita dapat mengetahui kualitasnya, sebab menurut para ulama muhaditsin disepakati, jenis kitab hadits menentukan kualitas hadits tertentu. Bila atas petunjuk diwan belum bisa didapati informasi dan petunjuka dengan jelas perlu dilihat kitab-kitab syarh.

Takhrij Dengan CD Hadits

Ketiga kegiatan dalam pentakhrijan hadits dewasa ini makin mudah dilakukan hal ini karena ada tekologi komputer. Hanya saja pentahrijan lewat komputer ini, hadits-hadits terbatas dalam CD.