BAGIAN III

Mencari Landasan Ilmiah Ilmu Dakwah

Teori dalam Proses Penelitian

Secara umum bagian ini mengungkapkan dasar-dasar epistemologi dan filsafah ilmu, dan metode penelitian ilmiah khususnya dalam bidang komunikasi. Istilah teori, dalam pengertian yang amat luas, merupakan representasi konseptual atau penjelasan tentang sesuatu fenomena. Sedangkan teori komunikasi adalah usaha para pakar untuk menunjukan hal-hal yang di anggapnya penting dalam proses komunikasi.

Ada dua generalisasi tentang teori, pertama teori merupakan suatu abstraksi. Karenanya teori bersifat parsial, yaitu hanya memfokuskan pada sesuatu dan mengecualikan sesuatu yang lainnya. Kedua, teori harus dipandang sebagai konstruk. Ia mempresentasikan cara-cara yang digunakan penelitan dalam melihat lingkungannya, tetapi teori itu sendiri tidak merefleksikan suatu relitas.

Dengan demikian, teori adalah suatu cara melihat dan berfikir tentang dunia. Dalam kegiatan penelitian, ia diibaratkan sebuah “lensa”, tapi bukan sebuah “cermin”.

Elemen-elemen dasar Teori: Konsep dan Penjelasan.

  1. Teori sendiri mengemukakan konsep-konsep yang hanya berdiri sendiri tanpa adanya penjelasan disebut taxonomies.
  2. Penjelasan lebih sekedar penanaman dan pendefinisian terhadap variabel-variabel.
  3. Penjelasan berkaitan dengan prinsip keperluan.
  4. sekurang-kurangnya ada dua bentuk penjelasan: kausal dan praktikal. Kausal menjelaskan suatu peristiwa dalam konteks sebab akibat sedangkan praktikal menjelaskan peristiwa dalam konteks pencapaian tujuan.
  5. Teori-teori sering juga ditempatkan pada suatu kerangka kerja yang bersifat elaboratif dan eksplanatif.
  6. Secara tradisional, dalam lapangan komunikasi, teori dibagi kedalam 3 tipe:
    • Law theories, digunakan dalam pernyataan-pernyataan yang mengikat aturan kausial (hubungan sebab akibat)
    • Rules theories, digunakan dalam pernyataan-pernyataan yang mengikuti aturan praktikal.
    • System approach, yaitu tipe yang berada diantara Law theories dan Rules theories.

Metode Deduktif-Hipotetis

  1. Metode deduktif memandang teori sebagai kodifikasi atau susunanhipotesis-hipotesis atau penemuan dari rangkaian pengujian.
  2. Metode tersebut dikembangkan melalui empat bagian proses: (a) menyusun pertanyaan (b) merumuskan hipotesis, dan (d) memformulasikan theori.
  3. Metode ini didasarkan pada lima konsep pokok:
    • Hipotesis yaitu dugaan tentang suatu hubungan antara variabel-variabel yang disusun secara baik.
    • Operasionalisme, yaitu suatu prinsip dimana variabel-variabel dalam suatu hipotesis harus dinyatakan dalam rumusan-rumusan yang memiliki makna khusus pada penyelidikan tertentu.
    • Kontrol dan Manipulasi, yaitu faktor-faktor yang dianggap penting, sebab hanya dengan cara inilah suatu hubungan sebab akibat dapat diketahui.
    • Covering Laws yaitu pernyataan teoritis tentang sebab dan akibat yang relevan dengan sekelompok variabel tertentu dalam suatu situasi.
    • Prediksi yaitu suatu yang dihasilkan oleh kegiatan penelitian. Yang berguna bagi manusia dalam menguasai lingkungannya.

Paradigma Alternatif

Disebut juga paradigma baru, yaitu paradigma yang disusun setelah menganggap bahwa paradigma lama sudah tidak relevan lagi.

Ada lima prinsip paradigma alternatif:

  1. Tindakan adalah suatu yang sifatnya sukarela.
  2. Pengetahuan dibuat oleh manusia.
  3. Teori bersifat histories.
  4. Terori mempengaruhi realitas yang dicakupinya, tetapi ia merupakan bagian dari kenyataan itu.
  5. Teori adalah sarat nilai. Teori tidak pernah netral.

Konseptual Sosial Behaviorisme

Organisme positivistik mengklaim dirinya sebagai ilmu sosial yang bersifat umum yang mengangkat keseluruhan masyarakat sebagai unit analisisnya. Sementara formalisme, sebaliknya mengklaim dirinya sebagai ilmu sosial yang spesifik, dengan mengangkat “wujud-wujud” yang nampak sebagai basis unit analisisnya, sekaligus menolak hal-hal yang sifatnya fiktisius.

Istilah “socisl behaviorism” sendiri dipinjam dari George Herbert Mead, seorang sosiolog yang mengembangkan teori interaksi simbolik. Karena itu dapat dipahami bila aliran ini lebih bernuansa objektif-positivistik.

Pokok masalah yang membicarakan teori sosial behaviorism ini mengungkapkan adanya tiga landasan filosofis yang cukup dominan. Pertama, neo idealisme yang merupakan pengembangan lanjutan dari faham idealisme. Kedua, Neo-Hegelianism, landasan filosofisnya ini sesungguhnya masih merupakan aliran neo-idealisme juga. Hanya aliran ini lebih mendasarkan pengembangan pemikirannya pada Hegel. Ketiga, pramagtisme yang menjadi dasar filosofisnya para businismen khususnya di Amerika. Karena itu teori-teori tersebut akan lebih bercorak objektif positivistik.