BAGIAN IV

Kajian Ontologi Ilmu Dakwah

Keapaan Filsafat

Tafakur atau berfikir itu stafnya iradah, buruhnya kemauan hati, computer drive-nya kehendak-kehendak rohani. Menurut Emha, puncak kerja akal adalah ketidaktahuan. Dihadapan Allah, akal manusia bagaikan lalat dipermukaan matahari.

Proses penafsiran wahyu Allah pada prakteknya banyak melibatkan kerja akal. Disamping mengandung unsure-unsur kebenaran relijius, Al-Qur’an juga memuat unsur-unsur yang bersifat filosofis.

Memurut Jamal al-Din al-Afgani, filsafah adalah ilmu yang memiliki kedudukan sebagai jiwa yang utuh dan menempati jenjang teratas dalam menciptakan kekuatan, karena bidang studinya yang universal. Terdapat beberapa pengertian dari filsafah yang diberikan oleh para ahli, seperti, pengetahuan tentang hikmah, pengetahuan tentang prinsip, atau dasar-dasar dari apa yang dibahas dan lain-lain.

Harun Nasution (1973), inti dari ilmu filsafah adalah berfikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradis, dogma, dan agama) dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai kedasar-dasar persoalan.

Sementara itu menurut Ali Syariati, filsafah sebagai jenis pengetahuan atau wawasan akut yang dibawa oleh nabi kepada manusia dan bukan oleh para filosof.

Menurul Luqman al-Hakim, bahwa siapa pun yang kurang dari standar itu (kebenaran dalam berbicara, menyampaikan amanat dan sebagainya), maka ia berada dibawah derajat Luqman, dan demikian juga sebaliknya. Menjadi bijak sebagaimana yang digambarkan Luqman sesungguhnya tidaklah sulit.

Pandangan lain, seperti yang digambarkan oleh Jalaluddin Rakhmat, filsafah (hikmah, kearifan) merupakan pengetahun tentang keseluruhan. Aristoteles, mahasiswa utama Plato membagi dua macam kearifan: kearifan spekulatif dan kearifan praktis.

Dari Ibnu Abbas diriwayatkan tiga makna al-hikmah: Al-Qur’an, kenabian, dan pemahaman Al-Qur’an. Menurut Abu Darda’ al-hikmah adalah pembacaan Al-Qur’an dan pemikiran tentang Al-Qur’an. Menurut Mujahid, ada empat makna al-hikmah: Al-Qur’an, almu, fiqh, dan kebenaran pembicaraan. Menurut Said bin Zubair dan Abu Aliyah, al-hikmah adalah rasa takut kepada Allah. Sementara Qatadah mengartikan al-hikmah sebagai al-sunnah.

Pengertian filsafah (hikmah) dapat diturunkan dari al-Qur’an surat al-Nahl:125. menguntip Syukriadi Sambas, pengertian hikmah merunjuk kepada:

Pertama, adil, ilmu, sabar, kenabian, al-Qur’an dan injil.

Kedua, ungkapan sesuatu untuk mengetahui sesuatu yang utama dengan ilmu yang utama. Dan orang yang melakukan suatu perbuatan dengan cermat dan teliti disebut Hakim.

Ketiga, al-hakim artinya orang yang cermat dalam segala urusan, atau orang yang bijak yakni orang yang telah ditempa berbagai pengalaman.

Keempat, al-hakam atau al-hakim, yaitu penguasa dan hakim yang menghukumi dan memperbaiki sesuatu.

Kelima, al-himah yaitu objek kebenaran (al-haq) yang didapat melalui ilmu dan aqal.

Keenam,mencegah perbuatan bodoh, membuat sesuatu menjadi baik dan mencegah sesuatu jangan sampaimeleset dari yang dikehendaki.

Ketujuh, mencegah orang dari akhlak tercela.

  • Kedelapan, mencegah kezaliman

Sementara itu, para ahli filsafah al-Qur’an memberikan tidak kurang dari 25 makna tentang hikmah ini, yang sebagaian diantaranya terbaca demikian:

a)      Validitas dalam perkataan dan perbuatan.

b)      Mengetahui yang benar dan mengamalkannya.

c)      Meletakkan sesuatu pada tempatnya.

d)      Menjawab segala sesuatu dengan cepat dan tepat.

e)      Memperbaiki perkataan dan perbuatan.

f)       Tepat dalam perbuatan serta meletakkan sesuatu pada tempatnya.

g)      Takut kepada Allah SWT, mengembangkan ilmu dan wara dalam agama.

h)      Kenabian mengandung hikmah, karena nabi diberi pemahaman, selalu tepat dalam perkataan, keyakinan dan bahkan dalam semua persoalan.

i)        Perkataan tegas dan benar yang dapat membedakan yang hak dan batil.

Hikmah teoritis yaitu mengamati inti sesuatu perkara dan mengetahui sebab akibat secara moral, perintah, fakta, dan syara. Sedangkan hikmah praktis ialah hikmah merujuk kepada perbuatan adil dan benar.

Keapaan Dakwah

Merujuk pada makn yang terkandung dalam al-Quran surat al-Nahl(16:125), Dakwah Islam dapat dirumuskan sebagai kewajiban muslim mukallaf untuk mengajak, menyeru dann memenggilorang berakal menjalani jalan tuhan (din al Islam) dengan cara hikmah, mauzhah hasanah, dan mujadalah yang ahsan, dengan respons positif atau negatif dari orang berakal yang diajak, diserudan di panggil di sepanjang zamandan di setiap ruang.

Dakwah Prespektif filsafat

Tabel dan wilayah kajian filsafat dakwah

1. Interaksi unsur dakwah Interaksi doktrin islam dengan da’I
  Kategori problem dakwah Masalah pemahaman hakikat dakwah Islam serta esensi pesan apa dan bagaimana yang harus disampaikan kepada masyarakat
  Subkategori problem dakwah Pertama masalah hakikat, status, struktur, fungsi dakwah islam dalam kehidupan umat.

Kedua masalah kemungkinan pengetahuan dakwah sebgai ilmu

Ketiga interaksi da’I dengan doktrin Islam juga menimbulkan masalah pesan Islamyang harus disampaikan pada msasyarakat, baik darri isi esensi, sistematika, maupun tahapan dan bobot sesuai dengan kondisi masyarakat dalam konteks sosio-kulrural tertentu

Keempat problem pemahgaman dinamika dakwah islam menurut prespktif Al-Quran dan Sunah

Kelima problem mengenaisasaran dakwah baik secara individual maupun kelompokdengan sikap-sikap dasarnya sebagaimana dijelaskan alquran dan sunah

  Subdisiplin ilmu dakwah Pertama, filsafat dakwah

Kedua, epsitemologi dakwah

Ketiga, esensi ajaran islam

Keempat, sejarah dakwah

Kelima, metodelogi penelitian dakwah, studim keluarga, muslim, sosiologi dakwah, ekonomi islam, politik dakwah

 

2. interaksi unsur dakwah Interaksi antata da’I dan mad’u
  Kategori problem dakwah Masalahpengenalan da’I terhadap tempat, kondisi, dan situasi mad’u
  Subkategori problem dakwah Pertama problem perluasan wilayah dakwah dan hasil-hasil dakwah dalam kesatuan geografis baik dari sisi kesinambungan maupun dinamika Islam

Kedua, problem rancangan penyajian informasi dan materi dakwah dalam skala globalyang disarankan pada kecanderungan masalah yang dihadapi mad’u dalam bidang pemikiran, kelembagaan dan tknologi

  Subdisiplin ilmu dakwah Petama, Geografi Islam(Dakwah)

Kedua, kebijakan dan strategi informasi islam

Ketiga, metode penelitian komunikasi, kesehatan mental, metode penyuluhan Islam

 

3. interaksi unsur dakwah Interaksi antara unsur mad’u dan unsur tujuan dakwah
  Kategori problem dakwah Masalah model (uswah) yang dapat diamati secara empirik oleh mad’u yang berkaitan dengan bentuk nyata prilaku individual (syahsyah) dan kolektif (jamaah) yang dikategorikan sebagai prilaku dalam dimensi amal saleh Islam
  Subkategori problem dakwah Pertama, problem pemahaman atas kondisi sistem akidah, sosial, ekonomi, dan lingkungan yang akan diajak menyatudeb\ngan tujuan dakwah

Kedua, problem pengembangan komunitas dan kelembagaan islam yang akan menjadi penopang kelembagaan dalam pengembangan masyarakat islam

Ketiga, problem pengembangan ekonomi umat bersekala kecilsebagai tindakan nyata pengembangan kaum mustad’afin

Keempat, problem pengembangan kesehatan masyarakat dan lingkungan umatsebagai tindakan nyata penyehatan fisik kehidupan umat

Kelima, problem dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan dari pelaksanaan kegiatan dakwah

Keenam, problem mencari teknologiyang murah dan tepat guna bagi pengembangandan perbaikan sanitasi umat

Ketujuh, problem kebijakan pembangunan negara islamyang sekitarnya dapatmengantarkan kemandirian dan kesinambungan pembangunanyang dilaksanakan oleh komunitas umat Islam

Kedelepan, problem pemahaman atas potensimasyarakat kelembagaan sosial, ekonomi, dan kondisi linghkungan masyarakat

  Subdisiplin ilmu dakwah Kesatu, pengantar ilmu pangembangan masyarakat, peta sosial ekonomi islam

Kedua, teknik pengembangan komunitas dan kelembagaan islam

Ketiga, teknik pengembangan usaha kecil

Keempat, tekjnik pengembangan kesehatan masyarakat

Kelima, analisa terhadap dampak lingkungan

Keenem, kebijakan pembangunan dunia islam

Ketujuh, teknologi cepat gunadan snitasi lingkungan

Kedelapan, riset dakwah partisifatif

 

4. interaksi unsur dakwah Interaksi antara unsur da’i dan unsur tujuan dakwah
  Kategori problem dakwah Masalah efisiensi dan efektifitasdalam menggunakan sumberdaya dakwahuntuk mencapai tujuan dakwah
  Subkategori problem dakwah Perama, problem sistem dan pengelolaan kwgiatan dakwahdalam mencapai tujuandakwah secara efisien dan efektif

Kedua, problem penembangan sumberdaya manusia (da’I ) dan ekonomi dakwah sebagai tulang punggunglembaga-lembaga dakwah

Ketga, problem pengelolen lembaga swadaya umat

Keeempat, problem penetapan kebijakan dan srategi dakwah bagi lembaga-lembaga dakwah

Kelima, problem pengelolaan pusat dakwah islamyang bertumpu pada mesjid

Keenam, problem pengelolaan ibadah haji dan umrohserta ziarah dakwahsebagai forum silsturahmi.

Ketujuh, problem perencanaan masa depan dakwah Islam dalam konteks era globalisasi peradabandan perencanaan dakwahuntuk menjawabmasalah kekinian

Kedelapan, program penelolaan islam melalui media massa serta media lainnya sebagai media dakwahIslam

Kesembilan, problem pmahaman atas realitaslembaga-lmbaga dakwah Islam

  Subdisiplin ilmu dakwah Prtama ,manajemen islam, mpengantar manajeman dakwah

Kedua, majelis pelatihan dakwah, sistem ekonomi islam, manajemen zis

Ketiga, manajemen organisasi nirlaba,manajemen tarkim, pengembangan lembaga dakwah, manajemen BPI, manajemen PMI

Keempatkebijakan dan strategi dakwah

Kelima, manajemen kemasjidan

Keenam, manajemen umrah, haji, dan ziarah

Ketujuh, studi masadepan peradaban islam, perencanaan dakwah

Kedelapan, manajemen pers dakwah

Kesembilan, metode penelitian lembaga dakwah

 

 

Kebutuhan Manusia terhadap Dakwah

Manusia ketika di alam arwah telah melakukan syahadah (kesaksian) bahwa Allah adalah Tuhan mereka. Namun manusia lupa akan perjanjian itu setelah ruh bersatu dengan jasad. Dengan demikian, dakwah diperlukan untuk mengaktualisasikan syahadah ilahiah kedalam kenyataan hidup dan kehidupan manusia.

Lebih jauhnya adalah bahwa manusia membutuhkan rasa aman dari hal apa pun yang akan membuat manusia menjadi tidak aman. Sekiranya dakwah dipandang sebagai upaya untuk menyelamatkan manusia dari posisi tidak selamat (tidak berislam) dihadapan Tuhan, maka kebutuhan manusia akan dakwah adalah sesuatu yang alami, manusiawi, dan tidak mengada-ada.

Mengapa dakwah harus diselenggarakan? Yakni untuk menyelamatkan manusia dari kemungkinan-kemungkinan atau dari hal-hal yang bisa membuat manusia tidak selamat dihadapan Tuhan.