BAGIAN V

Kajian Epistemologi Ilmu Dakwah

Paradigma:

Dari Pandangan Dunia sampai Metode Ilmiah

Paradigama sering dihadapkan pada pelanggaran alam, yang akhirnya terjadilah revolusi sains yang mengakibatkan terjadinya perubahan pandangan dunia dan berimplikasi pada munculnya paradigma baru.

Mengingat pandangan dunia merupakan persoalan yang mendasar, karena melandasi sebuah paradigma dalam kegiatan keilmuan-metode keilmuan, maka dalam merumuskan konstruksi metode keilmuan dalam islam, nampaknya kita harus berpedoman pada pandangan dunia islam yang termuat dalam al-Qur’an yang menjadi rujukan utamanya.

Pandangan Dunia Al-Qur’an

Pandangan al-Qur’an yang utuh tentang dunia ini, tampaknya tidak memisahkan kedudukan seluruh realitas yang secara umum terdiri dari Allah-manusia-alam. Ketika berbicara alam maka kedudukan Allah dan manusia pun turut terbahas. Bahasan al-Qur’an adalah bagaimana kedudukan manusia dihadapan Allah dan terhadap alam.

Gambaran al-Qur’an tentang hubungan Allah dengan alam tersebut menurut Aan Radian (1999) mirip sekali dengan gagasan Bohm tentang pembagian semesta, yang terbagi menjadi dua tatanan: (1) tatanan implicate, yaitu tatanan tersirat yang merupakan medan kesatuan primer yang digambarkan sebagai piring holografik, yang tiap bagiannya merupakan pantulan informasi tentang keseluruhan dan mendasar. (2) tatanan eksplicate, dalam menampilkan keragaman. Terjemahan ayat tersebut kira-kira sebagai berikut:

“Allah lah cahaya bagi langit dan bumi. Cahaya-Nya itu ibarat lubang tak tembus yang berisi pelita. Pelita itu berada dalam kaca yang tampak seperti bintang kemilau (kristal) yang dipenuhi dengan minyak dari pohon yang di berkati yang tidak ada ditimur ataupun barat, minyak itu nyaris menerangi walau tak tersentuh nyala api. Cahaya di atas cahaya (saling berpantulan), Allah menunjuk orang yang di kehendaki-Nya untuk mendapat cahaya itu. Begitulah Allah membuat perumpamaan bagi manusia dengan segala kemahatahuannya akan segala sesuatu” (QS. 24:35).

Menurut al-Qur’an (16:78), ketika manusia terlahir, ia tidak tahu apa-apa. Selanjutnya ia diberi tiga pokok untuk dapat menyerap pengetahuan, yaitu al-sam’(pendengaran), al-bashar (penglihatan),dan al-af’idah (yang maknanya masih diperselisihkan). Fu’ad merupkan ekstra – sensory (indera keenam), tampaknya fu’ad inilah yang merupakan indera untuk menangkap wahyu non-verbal (ketika manusia masih memiliki kebeningan nurani). Hasil serapan kedua jenis indera ini selanjutnya diolah di dalam akal.

Kontruksi Metode Keilmuan dalam Islam

Sebagai suatu disiplin, ilmu dakwah dalam menjalankan funngsi keilmuannya dengan berdasarkan pada kajian tersebut, paling tidak melalui tiga metode, yaitu (1) metode istinbath, (2) iqtibas, (3) istiqra.

Metode istinbath adalah proses penalaran dalam menjelaskan, memprediksikan, dan mengevaluasi hakikat dakwah dengan mengacu pada al-Qur’an, sunah dan produk ijtihad ulama dalam memahami keduanya.

Metode iqtibas adalah proses penalaran dalam menjelaskan, memprediksikan, dan mengevaluasi hakikat dakwah dengan mengambil pelajaran dari teori ilmu sosial dan filsafah manusia.

Metode istiqra adalah proses penalaran dalam menjelaskan, memprediksikan, dan mengevaluasi hakikat dakwah melalui kegiatan penelitian pada tataran konsep dan pada tataran realitas macam-macam aktivitas dakwah dengan cara kerja ilmiah.