BAB I

PENDAHULUAN

 

Hati adalah segumpal daging sanubari yang terletak di sebelah kiri dada,hati juga merupakan rasa rohaniah yang halus, dan berkaitan dengan hati jasmaniah (bendawi) dan perasaan halus itu adalah hakikat dari manusia.

Hati juga merupakan pangkal dari setiap perbuatan yang kita lakukan maka dari itu segala sesuatu yang kita lakukan harus sesuai dengan  keinginan hati karena hati adalah jendela kehidupan, oleh karena itu janganlah membiarkan diri kita terjerumus oleh hal-hal yang menyimpang karena sesungguhnya penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam perbuatan seseorang itu sangat berlawanan dengan hati seseorang, karena hati itu suci janganlah kita terbawa oleh nafsu setan karena semata-mata semua itu akan menjerumuskan seseorang kedalam kesesatan.

Sifat takabur adalah salah satu yang menyimpang atau bertolak belakng dengan apa yang dikatakan hati, sifat takabur adalah sifat yang berlebih-lebihan karena segala sesuatu yang berlebih-lebihan itu adalah salah satu perbuatan setan seperti pepatah mengatakan “sebaik-baiknya perkara adalah pertengahannya”.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Takabur

Secara bahasa takabur berarti “merasa besar” atau “menunjukan kebesaran” sedangkan menurut istilah takabur berarti menunjukan kebanggaan pada diri sendiri dengan melecekan peribadi orang lain dan tidak mau menerima kebenaran yang datang dari mereka.

B. Tanda-tanda Sikap Takabur

Ada beberapa perilaku yang menjadi tanda-tanda adanya sifat sombong dalam diri seseorang,antara lain:

  1. Berlagak ketika berjalan dengan membungkukkan pundak dan memalingkan muka.
  2. Melakukan kerusakan di muka bumi apabila ada kesempatan dengan menolak nasihat dan menentang kebenaran.
  3. Berlebihan dalam berbicara.
  4. Memanjangkan pakaian (sampai jatuh ketanah) dengan niat sombong dan membanggakan diri.
  5. Menginginkan agar semua orang membutuhkannya sementara ia merasa tidak membutuhkan orang lain.

C. Dampak Negatif Sikap Takabur

Kesombongan berakibat sangat negatif  dan berbahaya baik bagi diri si pelaku maupun bagi perjuangan islam.

Dampak Bagi Pelaku

a)      Tidak mampu mengambil pelajaran

Seseorang yang sombong karena keuggulan dan kelebihannya dari pada orang lain di sadari atau tidak kadang-kadang melebihi tuhan sendiri, sikap seperti ini mengakibatkan ketidak mampuannya mengambil pelajaran sehingga ketika melihat ayat-ayat allah yang begitu banyak pada dirinya dan alam sekita, ia berpaling dari ayat-ayat itu.

“Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya.”

b)      Jiwa gundah dan terguncang

Untuk memuaskan rasa unggul dan lebih dari orang lain, orang yang sombong selalu ingin agar orang lain menundukkan kepala di hadapannya dan menurutinya. Manurutinya. Manusia yang mulia dan memiliki harga diri tentu akan menolak hal ini dan sejatinya memang mereka tidak akan terjerumus pada angan-angan jelek yang berasal dari dirinya, yang berakibat pada keterkuncangan jiwanya.

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”

c)      Selalu melakukan kesalahan dan kekurangan

Seorang yang sombong karena merasa dalam setuap hal tidak akan melakukan interopeksi diri untuk mengetahui kelemahan dan kekurangan dirinya, serta memperbaiki hal-hal yang perlu di perbaiki ia juga tidak mau menerima nasihat, petunjuk, dan bimbingan dari orang lain sehingga akan terus berada dalam kekeliruan dan kesalahannya sampai akhir ayat, kemudian masuk neraka.

“(bukan demikian), yang benar: barangsiapa berbuat dosa dan ia Telah diliputi oleh dosanya, mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”

d)     Tidak dapat meraih surga

Dampak terakhir dari kesombongan adalah tidak dapat masuk surga ini wajar sebab orang melewati batas ketuhanan dan terus menerus berada dalam kekurangan dan kesalahannya kehidupannya akan terhenti ia tidak dapat menghasilkan kebaikkan yang pantas mendapatkan pahala dan selamanya tidak mendapat surga.

  1. Dampak Bagi Dakwah Islam

a)      Timbulnya perpecahan di kalangan umat

Perpecahan di kalangan umat bisa saja terjadi karena sikap sombong, sebab pada dasarnya hati manusia menyukai orang yang ramah, lemah lembut, dan rendah hati.

b)      Sulit mendapatkan bantuan dan pertolongan allah

Allah SWT telah memenetapkan bahwa dia tidak akan memberikan bantuan dan pertolongan kecuali pada orang-orang yang rendah hati hingga mereka bisa menjauhi setan dari jiwa mereka, bahkan dapat menjaukan kebanggan diri meraka sendiri.

D. Cara mengatasi Penyakit Hati (Takabur)

Agar dapat terhindar dari penyakit takabur dan tidak terjerumus ke dalamnya, sebaiknya kita mangikuti terapi-terapi berikut :

a.       Mengingat Dampak Negatif Takabur

b.      Menjenguk orang yang sakit

c.       Menghindari pergaulan dengan orang sombong

d.      Bergaul dengan orang fakir

e.       Tafakur atas diri dan fenomena alam

f.       Memperhatikan kisah hidup orang sombong

g.      Selalu menghadiri majlis-majlis ilmu

h.      Melatih diri dengan pekerjaan “remeh”

i.        Meminta maaf kepada orang yang pernah kita hina

j.        Menampakkan kenikmatan kepada orang lain

k.      Mengingat standar kemuliaan dalam islam

l.        Selalu taat kepada Allah

m.    Introspeksi diri secara bertahap

n.      Memohon pertolongan dari Allah

Selain ke 14 terapi di atas bisa pula di lakukan dengn berzikir.

E. Terapi dengan berzikir

a.       Pengertian Zikir

Kata zikir di ambil dari bahasa arab “zakara” yang berarti mengingat. Zikir juga bisa di katakan sebagai salah satu sarana untuk mendekatkan diri pada allah seolah-olah kita dilihat dan di perhatikan oleh allah.

Banyak kaum muslimin yang berpikir bahwa zikir lebih bernilai disisi allah dan lebih mendekati keridhaannya dari pada amalan lainya atau mereka mengira bahwa derajat ihsan tidak akan tercapai selain dengan memperbanyak dan memperpanjang zikir, baik itu di tempat-tempat persemedian yang sunyi atau di tempat-tempat keramaian. Menurut mereka, memperbanyak wirid dan bacaan-bacaan, serta tidak melepas biji-biji tasbih dari hitungan jari-jari tangan dapat di anggap sebagai menghitung nama-nama allah.

Atha al-sikandari seorang toko sufi generasi awal sangat mengagungkan zikir dan mengjarkan kepada para muridnya bahwa zikir berkedudukan sebagai ihsan. Tujuan atha jelas, bahwa manusia terkadang merasa bosan untuk mengulang-ngulang wirid karena kesibukan lain yang mengganggu pikirannya saat membacakan wirid-wirid itu.

b.      Makna Zikir

a)      Makna kata “subahanallah” itu ialah maha suci baginya dari segala sesuatu yang tidak pantas baginya dari berbagai kekurangan. Tidak ada sahabat atau teman, tidak mempunyai anak dan semua yang tidak pantas baginya. Maknanya mutlak bagi semua kalimat zikir juga di ungkapkan secara mutlak bagi sholat sunat. Di antaranya sholat tasbih di khsususkan demikian karena banyak tasbih dalam sholat sunat itu. Hadits Nabi SAW. :

“Barang siapa yang mengucapkan Maha Suci Allah dan dengan pujian kepada-Nya seratus kali, maka akan dihapus darinya kesalahannya (dosanya), sekalipun kesalahannya itu adalah seperti sebanyak buih dari laut.” (HR. Muttafaq Alaih)

b)      Makna kata “la-ilaha illallah” merupakan pengertian tasbih sebagai kalimat tauhid karena sesungguhnya kalimat tahlil itu adalah pemaha sucian dari segala sesuatu yang tidak pantas bagi allah.

1.      Keutamaan Zikir

2.      Menenangkan hati

3.      Selalu dekat dengan allah

4.      Memudahkan pikiran

5.      Di mudahkan persoalan kehidupan

F. Cara berzikir

a.       Adab Zikirullah

“Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”

Maksud ayat di atas berbaring dengan menyebut nama allah dalam hati di sertai rasa takut, merendahkan diri tidak mengeraskan suara di waktu pagi dan petang.

b.      Berzikir, bertasbih memuji allah

“Maka Bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai sembahyang.”

Maksud ayat di atas dan bertasbilah kamu kepadaNya di malam hari dan di setiap selesai sholat

c.       Bertawasul atau wasilah kepada allah

Tawasul kepada allah adalah melakukan amal parbuatan yang dapat mendekatkan diri kepada allah, tawasul yang di perbolehkan dalam ajaran islam adalah:

a)      Dengan asma’ul-husna

b)      Dengan keimanan dan amal saleh

c)      Dengan doa orang saleh yang masih hidup

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna. Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang Telah mereka kerjakan.”

Maksud ayat di atas yang berdoa kepadanya, bertawasul dalam berdoa dengan asmaul husna (atau dengan menyebut sifat-sifat Allah yang mulia).

 

 

BAB III

KESIMPULAN

Penyakit hati bersumber dari perlakuan seseorang yang menyimpang dari keinginan hati seseorang. Oleh karena itu, kita harus menjaga hati dengan zikir kepada Allah. Dan agar dapat terhindar dari penyakit takabur dan tidak terjerumus ke dalamnya, sebaiknya kita mangikuti terapi-terapi berikut :

a.       Mengingat Dampak Negatif Takabur

b.      Menjenguk orang yang sakit

c.       Menghindari pergaulan dengan orang sombong

d.      Bergaul dengan orang fakir

e.       Tafakur atas diri dan fenomena alam

f.       Memperhatikan kisah hidup orang sombong

g.      Selalu menghadiri majlis-majlis ilmu

h.      Melatih diri dengan pekerjaan “remeh”

i.        Meminta maaf kepada orang yang pernah kita hina

j.        Menampakkan kenikmatan kepada orang lain

k.      Mengingat standar kemuliaan dalam islam

l.        Selalu taat kepada Allah

m.    Introspeksi diri secara bertahap

n.      Memohon pertolongan dari Allah

 

 

DAFTAR PUSTAKA


Choeruddin Hadhiri. 2005. Kelasifikasi Kandungan al-Quran. Jakarta : Gema Insani Press.

Abu Bakar Muhammad. 1996. Terjemahan Subulussalam. Surabaya : al-Ikhlas

Sayyid Hawwa. 1983. Jalan Rohani. Jakarta : Mizan.

Sayyid M. Nuh. 2004. Mengobati Penyakit Hati. Jakarta : Harita Capta.

Noer Hidayatullah. 2002. Insan Kamil. Bekasi : Inte Media dan Nalar.